Kadang kita menjadi manusia yang terlihat begitu cerdas dihadapan orang lain hanya karena kita bertittlekan pendidikan tinggi. Tapi, sanggupkah anda yang berada diposisi saya saat itu menjawab pertanyaan ini?
Oke, waktu itu hari senin, ya senin kaya biasanya. Bosen, jenuh, pusing, bingung, dan beku.
Udah jadi kaya rutinitas disetiap hari yang sama disetiap minggunya ketemu bocah. Dan sebenernya udah ga aneh kalau salah satu dari mereka ada yang bilang "teh, saya mau ngobrol sama teteh". Terkadang bahan pembahasan kita ga penting. Hanya sekedar dengerin keluhan mereka. Curhatan mereka tentang pasangannya. Atau bahkan cuman sekedar iseng.
Tapi kali ini, ajakan ngobrol satu anak ini bikin tercengang. Jujur, saya paling tidak mau kalau ada anak yg cerita tentang keluar. Ya menurut saya ini privasinya, tapi untuk kali ini saya setuju jadi pendengar untuk hal ini. Bocah ini diawal obrolannya sempet keliatan kalau mukanya ragu. Entahlah kenapa. Mungkin dia bingung memulai, atau mungkin dia takut. Takut?
Anak ini sebenernya keliatan banget dia ragunya. Bahkan mukanya mencirikan kebingungan yg mendalam. Dia menanyakan tentang apa hukum seorang ibu yang menelantarkan anaknya. Apa hukum seorang ibu yg menolak setiap anaknya ingin bertemu. Dan bahkan dia menceritakan begitu detail semua cerita, tapi dengan sisi dia sebagai pendengar yg menjelaskan kembali kepada saya. Awalnya saya sempat berpikir apa ini cerita tentang dia, tapi saya membantah itu sendiri, karena saya bertemu dengan ibunya. Kurang lebih 1 jam dia bercerita sangat panjang, tanpa menjelaskan pertanyaannya.
Ketika diakhir pembicaraan, dia meminta saya untuk menjawab semua pertanyaan yg dia sisipkan disetiap ceritanya. Jujur, saya bingung saat itu. Saya tidak bisa memberi jalan keluar, saya bukan orang cerdas dalam memecahkan sebuah masalah. Saat itu jawaban saya memang kurang membuat dia puas. Bahkan dia memperlihatkan kalau dia menuntut jawaban yang lebih. Saya sempat dibuatnya kesal, karena saya benar benar tidak bisa menjawabnya lebih. Tapi saat diakhir dia bilang, "ini cerita saya teh, saya udah dari lama mendem. saya mau cerita sama orang lain tapi mereka ga ngerti teh".
Oke, pada saat itu ucapannya membuat saya kaget, bingung. Kenapa dia percaya untuk bercerita pada saya?. Dan jawabannya adalah dia hanya butuh didengar, bukan diberi saran. Dia hanya ingin semua bebannya terlepas sejenak. Dari kejadian ini saya banya belajar. Terimakasih ya bocah, kamu sudah memberi saya pembelajaran diumur saya yg didepanmu ini cukup dewasa. Saya sedikit mensyukuri kehadiran saya saat itu. Mungkin kehadiran saya terlihat tidak berguna, tapi keberadaan saya sedikitnya mereka butuhkan diwaktu-waktu tertentu.
"Allah menciptakan umatNya begitu sangat sempurna. Tapi manusia selalu saja merasa kurang. Kita boleh menjadi manusia yang penuh dengan perencanaan masa depan yg sangat luar biasa. Tapi terkadang kita lupa, skenario kita itu sangat kecil dihadapan Tuhan, dan skenario Tuhan selalu mempunyai alurnya sendiri"
Terimakasih ya de, kamu malaikat kok, kamu akan mampu membalikan keadaan ini. Bersabar ya de, ingat! Selalu ada Allah bersamamu. Dan ceritakanlah semua kegelisahanmu ini padaNya, ia akan menjawabnya dengan sangat indah.